2022-02-25

FISIOLOGI TUMBUHAN - PEMATANGAN BUAH DENGAN ETRIL

 

🍑✒️✨ LAPORAN PRAKTIKUM :
PEMATANGAN BUAH

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

    Etilen adalah fitohormon yang berupa senyawa karbon sederhana yang tidak jenuh, dengan rumus kimia CH2=CH2. Dalam keadaan normal etilen akan berbentuk gas. Gas etilen dibentuk dari hasil pembakaran yang tidak sempurna dari senyawa yang kaya akan ikatan karbon, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Gas etilen akan dilepaskan oleh tanaman ke udara. Etilen diproduksi oleh seluruh tumbuhan tingkat tinggi, seperti daun, batang, akar, bunga, buah, tuber dan seedling. Buah merupakan sumber utama etilen.

    Bahan dasar etilen adalah metionin, yang kemudian akan diubah menjadi etilen dalam suatu sistem yang terdiri dari Cu++ dan asam askorbat. Kemudian atom  1 dari metionin akan diubah menjadi CO2, sedangkan atom C2 menjadi asam formik dan atom C3-C4 menjadi etilen. Kunci dari biosintesis etilen adalah adanya (1-aminosikloropropan 1-asam karboksilat) ACC sintetase. Sintesis ACC bertambah dengan adanya auksin, khususnya IAA dan sitokinin. Akan tetapi, ACC sintetase dihambat oleh adanya ABA.

2. Tujuan

a. Menentukan besarnya konsentrasi etilen dalam memacu pematangan buah.
b. Membandingkan kecepatan pematangan dua macam buah dengan perlakuan etril.

II. TINJAUAN PUSTAKA

   Morgan dan Hall menyatakan bahwa konsentrasi auksin yang tinggi akan mempengaruhi pembentukan etilen. Sedangkan adanya inhibitor RNA atau sintesis protein akan dapat menghalangi pembentukan etilen. Dengan demikian auksin yang mempunyai konsentrasi rendah akan merangsang pembentukan etilen tanpa sintesis protein, sedangkan yang memiliki konsentrasi tinggi dapat merangsang pembentukan etilen melalui induksi sintesis RNA dan protein.

    Guttenberg dan Steinmetz berpendapat bahwa etilen mampu menghilangkan aktivitas auksin sebab etilen dapat merusak polaritas sel dan transpor. Akibatnya, auksin menyebar secara lateral keluar dari floem sehingga setelah pemberian etilen pada suatu bagian tumbuhan, kadar auksin pada suatu tempat tinggi dan pada tempat yang lain kadarnya rendah.

    Perubahan fisiologi yang terjadi selama proses pematangan merupakan akibar terjadinya proses klimaterik dalam respirasi (𝘳𝘦𝘴𝘱𝘪𝘳𝘢𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘤𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵𝘦𝘳𝘪𝘤). Diduga dalam proses pematangan buah, etilen mempengaruhi respirasi klimaterik melalui 2 cara, yaitu; (1) Etilen mempengaruhi permeabilitas membran sehingga permeabilitas sel menjadi besar. Hal tersebut mengakibatkan pelunakan buah dan bercampurnya metabolit dengan enzim sehingga metabolisme respirasi dipercepat. (2) Selama klimaterik kandungan protein meningkat dan diduga etilen lebih merangsang sintesis protein pada saat tersebut. Protein yang dibentuk ini terlibat dalam proses pematangan dan pada proses klimaterik terjadi peningkatan enzim respirasi.

    Berbagai proses fisiologis dalam tumbuhan, etilen memukuju peranan penting, antara lain (1) mendukung respirasi klimaterik dan pematangan buah, (2) mendukung epinasti, (3) menghambat perpanjangan batang dan akar, (4) memacu perbungaan, (5) mempercepat proses absisi/pengguguran.


III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

1. Alat

a. Batang pengaduk
b. Gelas ukur
c. Gelas piala
d. Kertas koran
e. Karet
f. Wadah

2. Bahan

a. Aquades
b. Etril
c. Pisang kepok
d. Mangga

3. Cara kerja

a. Satu sisir pisang kepok dan buah mangga yang telah matang fisiologi (kulit masih berwarna hijau) disiapkan.
b. Larutan etril dengan konsentrasi 500, 700 dan 900 masing-masing sebanyak 2000 ml disiapkan.
c. Sebanyak 2 buah pisang dan sebuah mangga dicelupkan pada wadah berisi larutan etril konsentrasi 500 ppm selama 2 menit, ulangi perlakuan yang sama dengan menggunakan larutan etril konsentrasi lainnya.
d. Kemudian buah ditiriskan dan dikeringkan.
e. Sebanyak 2 buah pisang dan sebuah mangga yang tidak diberi perlakuan disiapkan.
f. Buah-buah tersebut dibungkus yang rapi dengan koran lalu diikat dengan karet dan diberi label sesuai perlakuan (misal: dengan 500 ppm, 700 ppm atau tanpa perlakuan).
g. Buah-buah yang telah dibungkus tersebut diletakkan pada tempat penyimpanan.
h. Perubahan pada buah diamati setiap hari pada jam yang sama pada saat praktikum dilakukan.
i. Perubahan yang terjadi meliputi warna, tingkat kekerasan atau lunak, dan aroma dari buah-buah tersebut dicatat.
j. Kecepatan pemacuan etril pada pematangan buah di perhatikan.

(saya tidak betul-betul menyelesaikan tahapan praktikum ini, jadi hasil dan pembahasan serta kesimpulan dibawah ini saya buat dengan permisalan / sebagai contoh saja.) 💌📮🐻


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil pengamatan

Pematangan Buah PSYCHESOUPE

Pematangan Buah II PSYCHESOUPE

    Perubahan aroma semakin tinggi maka semakin menyengat. Perubahan tekstur semakin tinggi maka semakin lunak. Perubahan warna semakin tinggi maka apabila dari hijau maka menjadi kekuningan kemudian menjadi kecoklatan.

2. Pembahasan

    Praktikum pematangan buah bertujuan untuk mengetahui apakah perbedaan perlakuan akan mempengaruhi aroma, tekstur dan warna yang seiring dengan laju pemasakan buah pisang dan mangga.

    Pada praktikum pematangan buah, mulanya buah yang telah dipersiapkan akan dicelupkan terlebih dahulu kedalam larutan etril konsentrasi tertentu selama dua menit. Kemudian juga gunakan buah lain untuk larutan etril pada konsentrasi lainnya sebagai perlakuan yang berbeda. Setelah tahap tersebut dirampungkan maka buah-buah akan dimasukkan kedalam penyimpanan. Sambil setiap harinya di periksa dan diamati perubahan dari aroma, tekstur maupun warna dari buah-buah tersebut.

    Selama 5 hari penyimpanan buah pisang dan mangga diamati dan ditemukan perbedaan yang disebabkan oleh adanya kontrol larutan etril dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Misalnya perubahan aroma buah pisang dan mangga dengan konsenterasi 0 ppm rata-rata adalah rendah sampai sedang; konsentrasi 500 ppm rendah sampai sedang; konsentrasi 700 ppm perubahan tekstur adalah rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi; konsentrasi 900 ppm perubahan tekstur yang terjadi dari rendah, sedang dan sangat tinggi. Kemudian ada perubahan tekstur buah pisang dan mangga dengan konsenterasi 0 ppm rata-rata adalah rendah, tinggi sampai sangat tinggi; konsentrasi 500 ppm rendah, sedang, tinggi sampai sangat tinggi; konsentrasi 700 ppm perubahan tekstur adalah rendah, tinggi dan sangat tinggi; konsentrasi 900 ppm perubahan tekstur yang terjadi dari rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Sementara itu, perubahan warna buah pisang dan mangga dengan konsenterasi 0 ppm rata-rata adalah rendah sampai sedang; konsentrasi 500 ppm rendah sampai sedang; konsentrasi 700 ppm perubahan tekstur adalah rendah, sedang dan tinggi; konsentrasi 900 ppm perubahan tekstur yang terjadi dari rendah, sedang dan tinggi.


V. KESIMPULAN

    Berdasarkan praktikum pematangan buah dapat diketahui:
a. Perbedaan perlakuan akan menyebabkan laju pemasakan buah yang berbeda-beda.
b. Perlakuan dengan larutan etril akan mempengaruhi proses pemasakan atau pematangan buah, sehingga menjadi lebih cepat.
c. Pemasakan buah pada buah pisang dan mangga yang ditandai oleh adanya aroma, warna dan tekstur yang berubah akan lebih pesat jika dicelupkan ke dalam larutan etril dengan konsentrasi 900 ppm.
d. Proses pematangan buah pisang dan mangga memerlukan gas etilen. Untuk mempercepat proses tersebut dapat disiasati dengan memperbanyak jumlah konsentrasi gas etilen dari luar, yang mana bisa di dapatkan dari larutan etril. 

Daftar Pustaka

Anggorowati, Sulastri dan Triani Hardiyati. (2015). Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang: Universitas Terbuka.

Dwiati, Murni. (2010). Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Prawinata, W., S. Harran dan P. Tjondronegoro. (1981). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bogor: Departemen Botani. Fakultas Pertanian IPB.

Sasmitamihardja, D. dan A.H. Siregar. (1990). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Fakultas MIPA. ITB.

Wattimena, G.A. (1988). Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor: PAU Bioteknologi. IPB.

 

2022-02-24

FISIOLOGI TUMBUHAN - PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP ENZIM

 

🍑✒️✨ LAPORAN PRAKTIKUM :
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP ENZIM

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

    Enzim adalah protein yang disusun dari dua bagian, yakni apoenzim dan koenzim. Apoenzim terdiri dari protein, tetapi koenzim mungkin terdiri dari bukan protein dan disebut dengan gugus prostetik. Gugus ini dapat berupa ion logam yang disebut kofaktor anorganik, misalnya Cu, Fe, Mn, Ca, dan K. Gugus prostetik dapat pula berupa senyawa anorganik, seperti misalnya NAD, NADP, FMN, FAD, COA, serta berbagai vitamin. Pada saat enzim bekerja, koenzim atau kofaktor memiliki peranan sebagai penerima atom yang ditambahkan atau dipisahkan dari substrat. Enzim diberi nama sesuai dengan substratnya dengan akhiran ase, dan atau berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisnya, misalnya hidrolase, fosforilase, reduktase, karboksilase dan sebagainya.

2. Tujuan

a. Menyimpulkan bahwa enzim dipengaruhi oleh pH dan suhu.

II. TINJAUAN PUSTAKA

    Setiap enzim bertindak pada satu substrat tunggal atau kelompok senyawa sejenis yang memiliki gugusan fungsi yang identik serta dapat melakukan reaksi. Hal ini pun disesuaikan dengan sifat enzim, yaitu (1) enzim aktif dalam jumlah yang sangat sedikit, (2) enzim tidak terpengaruh oleh reaksi yang dikatalisisnya oleh sebab enzim adalah katalis murni, (3) enzim dapat mempercepat suatu reaksi namun tidak mempengaruhi keseimbangan reaksi, (4) katalis enzim bekerja sangat spesifik, dan (5) beberapa enzim dapat bekerja terhadap suatu substrat tertentu dan menghasilkan produk yang sama.

   Enzim berupa protein sehingga memiliki kepekaan terhadap pengaruh perubahan lingkungan, misalnya konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, temperatur, pH dan zat penghambat.

   Perubahan pH pada lingkungan dapat menyebabkan terjadinya denaturasi enzim. Peristiwa rusaknya enzim karena pengaruh zat kimia disebut flokulasi dan hal ini dapat berakibat pada hilangnya aktivitas enzim. Molekul protein juga merupakan enzim, yang tersusun dari asam amino yang terangkai dalam ikatan peptida. Jika protein dihidrolisis menggunakan asam maka asam amino penyusunnya akan dibebaskan dari molekul protein.

    Temperatur yang tinggi mempunyai pengaruh terhadap enzim karena struktur molekul enzim sangat kompleks dengan sejumlah besar ikatan hidrogen yang lemah. Ikatan hidrogen tersebut akan terputus pada kondisi temperatur tinggi, sehingga menyebabkan struktur enzim berubah. Kemudian, enzim mengalami denaturasi sehingga tidak dapat berfungsi. Peristiwa rusaknya enzim karena pengaruh temperatur disebut koagulasi.


III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

1. Alat

a. Tabung reaksi dan raknya
b. Termometer
c. Pipet
d. Penjepit
e. Lempeng pemanas listrik
f. 𝘚𝘵𝘰𝘱 𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩
g. Gelas piala

2. Bahan

a. Telur
b. Air/aquades
c. Alkohol 95%

3. Cara kerja

a. Air dalam gelas piala dipanaskan sampai 100°C.
b. Putih telur sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
c. Alkohol 95% ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang sama sebanyak 5 tetes.
d. Tabung reaksi di goyangkan agar putih telur dan alkohol 95% di dalamnya teraduk.
e. Gelembung-gelembung yang muncul diamati.
f. Aquades sebanyak 1 ml ditambahkan dan perubahan diamati dengan seksama. Perubahan yang terjadi di dokumentasikan.
g. Tabung reaksi yang telah diisi dengan putih telur kemudian dijepit dengan penjepit dan pelan-pelan dimasukkan ke dalam air yang mendidih sambil memasukkan termometer dalam tabung reaksi.
h. Dengan menggunakan 𝘴𝘵𝘰𝘱 𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩, lama waktu reaksi  koagulasi pada putih telur hingga terlihat mencapai koagulasi sempurna (perubahan warna bening menjadi putih pada putih telur) di amati dan dicatat dan dengan menggunakan termometer, pada temperatur berapa saat koagulasi putih telur dimulai dan selesai, dicatat.

(saya tidak betul-betul menyelesaikan tahapan praktikum ini, jadi hasil dan pembahasan serta kesimpulan dibawah ini saya buat dengan permisalan / sebagai contoh saja.) 💌📮🐻


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil pengamatan

Koagulasi PSYCHESOUPE

Koagulasi II PSYCHESOUPE

2. Pembahasan

    Pada praktikum pengaruh lingkungan terhadap enzim ini akan diamati pengaruh dari pH dan suhu terhadap enzim dengan bahan berupa putih telur.

    Pada praktikum pengaruh lingkungan terhadap enzim, mulanya sebanyak 5 ml putih telur dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian diberikan beberapa tetes alkohol 95% untuk diamati perubahannya, kemudian diberikan aquades sebanyak 1 ml lalu dikocok untuk diamati perubahan yang kedua. Sementara, tabung reaksi yang telah diisi dengan 5 ml putih telur dijepit dengan penjepit dan dimasukkan ke dalam air mendidih sambil diukur suhunya dengan termometer dan diamati saat-saat terjadinya koagulasi pada putih telur tersebut.

    Terbentuknya endapan pada saat perlakuan penambahan beberapa tetes alkohol 95% disebabkan oleh karena adanya penambahan alkohol dapat mengikat air dan mengakibatkan kelarutan protein dalam air menjadi berkurang dan endapan akan terbentuk. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pH pada putih telur yang dapat menyebabkan terjadinya denaturasi enzim dan merupakan peristiwa rusaknya enzim yang diakibatkan oleh adanya pengaruh dari zat kimia yang disebut juga dengan istilah flokulasi. Protein (yang juga termasuk enzim) apabila di dihidrolisis menggunakan asam, hal ini dapat menyebabkan asam amino penyusunnya akan dibebaskan dari molekul protein tersebut.

    Proses koagulasi berdasarkan data hasil pengamatan adalah berlangsung selama 10 menit. Putih telur tersebut mulai mengalami koagulasi pada saat suhu 45° dan mengalami koagulasi sempurna pada saat suhu mencapai 60°. Temperatur yang tinggi pada memiliki pengaruh pada enzim oleh sebab struktur molekul enzim sangat kompleks dengan sejumlah besar ikatan hidrogen yang lemah. Apabila keadaan dalam temperatur yang tinggi, maka ikatan hidrogen tersebut akan terputus yang menyebabkan struktur enzim berubah. Kemudian enzim mengalami denaturasi sehingga tidak lagi dapat berfungsi seperti semula. Kerusakan enzim yang diakibatkan oleh karena adanya pengaruh temperatur disebut dengan koagulasi. 


V. KESIMPULAN

    Berdasarkan praktikum pengaruh lingkungan terhadap enzim telah diketahui:
a. Pengaruh lingkungan berupa pH yang pada titik tertentu dapat menyebabkan denaturasi enzim.
b. Pengaruh lingkungan berupa temperatur yang pada titik tertentu dapat menyebabkan denaturasi enzim.
c. Peristiwa rusaknya enzim yang diakibatkan oleh adanya pengaruh dari zat kimia (dalam percobaan diatas yakni berupa alkohol) yang disebut juga dengan istilah flokulasi.
d. Kerusakan enzim yang diakibatkan oleh karena adanya pengaruh temperatur disebut dengan koagulasi.
e. Putih telur yang direaksikan dengan beberapa tetes alkohol dan kemudian ditambahkan air sebanyak 1 ml akan menghasilkan endapan.
f. Putih telur yang direaksikan dengan proses pemanasan akan mengalami penggumpalan koagulasi.

Daftar Pustaka

Anggorowati, Sulastri dan Triani Hardiyati. (2015). Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang: Universitas Terbuka.

Darjatnya dan Arbayah. (1990). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bandung: FMIPA, ITB.

Dwiati, Murni. (2010). Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Prawinata, W., S. Harran dan P. Tjondronegoro. (1981). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bogor: Departemen Botani. Fakultas Pertanian IPB.

Sasmitamihardja, D. dan A.H. Siregar. (1990). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Fakultas MIPA. ITB.

Suseno, H. (1974). Metabolisme Dasar. Bogor: Departemen Botani, Fakultas Pertanian, IPB.

 

2022-02-23

FISIOLOGI TUMBUHAN - TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN

 

🍑✒️✨ LAPORAN PRAKTIKUM :
TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN


I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

    Transpirasi merupakan proses hilangnya uap air dari permukaan tubuh tumbuhan yang diakibatkan oleh adanya penguapan (evaporasi). Transpirasi dari permukaan daun terutama berlangsung melalui stomata. Peristiwa ini lazim dikenal sebagai transpirasi stomatal. Selain itu, sebagian kecil uap air dapat juga hilang melalui kutikula (transpirasi lentikuler). Berbeda dengan evaporasi, uap air pada transpirasi tidak meninggalkan permukaan bebas, namun harus melewati epidermis atau stomata. Transpirasi ditentukan oleh faktor yang memengaruhi pembukaan stomata. Misalnya, kenaikan temperatur daun dapat memacu evaporasi, tetapi juga dapat menyebabkan menutupnya stomata sehingga transpirasi menjadi berkurang.

2. Tujuan

a. Mengukur laju kehilangan uap air pada daun Filisium.


II. TINJAUAN PUSTAKA

    Proses transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga antarsel yang ada dalam daun. Rongga antarsel pada jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga antarsel akan terus berlangsung selama rongga antarsel belum jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan airnya ke rongga antarsel, tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem tulang daun, kemudian tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar, dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam rongga antarsel akan tetap berada dalam rongga antarsel tersebut, selama stomata dalam epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada uap air yang keluar menembus epidermis dan kutikula, jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan. Agar transpirasi dapat berjalan maka stomata pada epidermis tadi harus membuka. Apabila stomata membuka, maka akan ada penghubung anatar rongga antarsel dengan atmosfer. Apabila tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antarsel, maka uap air dari rongga antarsel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Sehingga syarat utama pada keberlangsungan proses transpirasi adalah adanya penguapan air dan terbukanya stomata.

    Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses transpirasi. Seperti faktor dalam, yaitu (1) jumlah stomata setiap satuan luas daun, (2) struktur anatomi daun, dan (3) potensial osmosis daun. Serta faktor luar atau lingkungan, yaitu (1) kelembaban udara, (2) temperatur, (3) angin, (4) radiasi cahaya, dan (5) ketersediaan air ataupun keadaan air tanah.

    Manfaat transpirasi bagi tumbuhan adalah (1) dapat menyebabkan terbentuknya daya hisap daun sehingga terjadi transpor air di batang, (2) membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar, (3) mengurangi air yang terserap berlebihan (4) dapat mempertahankan temperatur yang sesuai untuk daun, berperan pada fotosintesis dan respirasi karena membuka/menutupnya stomata, dan (6) mengatur turgor optimum di dalam sel.


III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

1. Alat

a. Potometer
b. Statif
c. Karet
d. Vaseline
e. 𝘚𝘵𝘰𝘱 𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩

2. Bahan

a. Cabang tumbuhan Filisum (𝘍𝘪𝘭𝘪𝘤𝘪𝘶𝘮 𝘥𝘦𝘤𝘪𝘱𝘪𝘦𝘯𝘴).
b. Air

3. Cara kerja

a. Air diukur dan dimasukkan ke dalam pipa sambil menutup bagian ujung lain dari pipa agar pipa terisi penuh tanpa ada gelembung udara.
b. Alat potometer diletakkan pada batang statif.
c. Cabang tumbuhan Filisium yang memiliki daun dipotong dengan potongan arah serong. Cabang tersebut dipasangkan pada karet yang memiliki diameter yang sama dengan pipa potometer.
d. Cabang tumbuhan Filisium yang telah diberi karet (dengan ukuran yang sesuai) dipasangkan pada penyangga.
e. Vaseline ditambahkan di sekitar karet penyangga dan dipastikan tidak ada air yang menetes.
f. Oksigen yang diserap oleh tumbuhan Filisium ditandai dengan air yang semakin naik didalam pipa.
g. Dengan menggunakan 𝘴𝘵𝘰𝘱 𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩, lama waktu gelembung yang bergerak dari garis pertama hingga batas akhir dihitung dan dicatat.

(saya tidak betul-betul menyelesaikan tahapan praktikum ini, jadi hasil dan pembahasan serta kesimpulan dibawah ini saya buat dengan permisalan / sebagai contoh saja.) 💌📮🐻


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil pengamatan

Transpirasi PSYCHESOUPE

2. Pembahasan

    Pada praktikum transpirasi pada tumbuhan ini akan diamati kecepatan transpirasi dengan bahan berupa cabang pohon Filisum pada keadaan lingkungan yang berbeda.

    Pada praktikum transpirasi tumbuhan, mulanya air dimasukkan ke dalam pipa dan cabang Filisium akan dipasangkan pada alat potometer dengan bantuan beberapa alat lainnya agar terpasang dengan baik. Dengan menggunakan 𝘴𝘵𝘰𝘱 𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩, lama waktu gelembung yang bergerak akan diamati dan dicatat.

    Setelah dicatat, perhitungan dilakukan dengan cara seperti berikut.

Transpirasi II PSYCHESOUPE

    Hasil perhitungan tersebut membuktikan apabila dalam keadaan lingkungan yakni di dalam suhu ruang, dimana sinar matahari secara tidak maksimal terserap oleh cabang Filisium sehingga mengakibatkan laju transpirasinya lebih rendah dibandingkan pada keadaan di bawah sinar matahari langsung.


V. KESIMPULAN

  Berdasarkan praktikum transpirasi pada tumbuhan Filisium telah diketahui:
a. Kecepatan laju transpirasi pada tumbuhan lebih tinggi apabila tumbuhan diletakkan di bawah sinar matahari langsung.
b. Kecepatan laju transpirasi pada tumbuhan lebih rendah apabila tumbuhan diletakkan di dalam suhu ruang.
c. Hasil dari perhitungan adalah rata-rata laju transpirasi cabang Filisium pada saat dalam suhu ruang adalah sebesar 1,41 mm³/s, sedangkan rata-rata laju transpirasi cabang Filisium pada saat di bawah sinar matahari langsung adalah sebesar 2,783 mm³/s.

Daftar Pustaka

Anggorowati, Sulastri dan Triani Hardiyati. (2015). Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang: Universitas Terbuka.

Bonner, J and J. E. Varner. (1965). Plant Biochemistry. New York: Academic Pres.

Dwiati, Murni. (2010). Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Sasmitamihardja, D. dan A.H. Siregar. (1990). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Fakultas MIPA. ITB.

Taiz L. and E. Zeiger. (1998). Plant Physiology. Sunderland, Massachusetts: Sinauer Association. Inc. Publishers.

 

2022-02-22

FISIOLOGI TUMBUHAN - TROPISME

 

🍑✒️✨ LAPORAN PRAKTIKUM :
TROPISME

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

    Tropisme terbagi menjadi dua macam, yaitu fototropisme dan geotropisme. Fototropisme merupakan adaptasi tumbuhan dengan perilaku mengarahkan tajuknya ke arah sinar matahari. Gejala fototropisme dapat diamati pada batang dan daun tumbuhan yang tumbuh menuju ke arah sinar matahari. Penerimaan sinar matahari oleh karena perilaku fototropisme sangat penting bagi berlangsungnya proses fotosintesis. Sementara itu, geotropisme merupakan gerak pertumbuhan ke arah tarikan gravitasi bumi. Akar pada umumnya menunjukkan geotropisme positif.

    Mekanisme kerja auksin atau IAA berfungsi untuk memacu perpanjangan sel pada koleoptil dan ruas tanaman melalui peningkatan plastisitas dinding sel. Perpanjangan sel terutama yang terjadi pada arah vertikal dan diikuti oleh pembesaran sel, serta meningkatnya bobot basah. Peningkatan bobot basah disebabkan meningkatnya pengambilan air oleh sel tersebut. Ikatan-ikatan hidrogen ini dapat dipengaruhi oleh suhu, tetapi terutama oleh ion H+ (proton). Ion H+ tersebut bergerak melalui plasma membran oleh adanya proses yang aktif, yang disebut pompa ion (𝘪𝘰𝘯 𝘱𝘶𝘮𝘱). Peranan IAA adalah untuk mengaktifkan pompa ion yang menyebabkan tertimbunnya ion-ion H+ pada dinding sel sehingga terjadi pelonggaran dinding sel. Setelah terjadi pelonggaran dinding sel maka sel akan membesar dan memanjang. Sedangkan dinding sel yang retak-retak karena adanya pergeseran anggota dinding sel, harus diperbaiki dengan pembuatan bahan-bahan penyusun dinding sel baru (lembaran xyloglucan). Dalam proses ini, IAA berperan meningkatkan aktivitas enzim-enzim yang berperan dalam sintesis komponen dinding sel (polisakarida dan glikoprotein) hingga membentuk suatu matriks yang stabil.

2. Tujuan

a. Menunjukkan bahwa auksin dipengaruhi oleh gravitasi bumi dan sinar.


II. TINJAUAN PUSTAKA

    Pada tahun 1880, Charles Darwin yang adalah seorang ilmuwan asal Inggris, melakukan beberapa percobaan untuk mendukung pemikiran Sachs mengenai pergerakan tanaman yang disebut dengan tropisme. Tropisme merupakan hasil respons tumbuhan terhadap rangsangan dari luar, seperti cahaya (fototropisme), sentuhan (tigma tropisme), kimia (khemotropisme), gravitasi (geotropisme), dan elektris (elektrotropisme). Darwin menggunakan beberapa jenis rumput-rumputan untuk melakukan studinya mengenai fototropisme. Apabila biji dikecambahkan dalam keadaan gelap, maka koleoptil akan tumbuh lurus. Apabila ujung koleoptil disinari secara searah, maka koleoptil akan membengkok ke arah datangnya sinar. Akan tetapi, jika pangkal koleoptil disinari atau ujung koleoptil diberi tutup yang tidak tembus cahaya kemudian baru disinari, maka tidak akan terjadi pembengkokan.

    Pada tahun 1928, F.W. Went (seorang ilmuwan asal Belanda) melakukan percobaan dan pembuktikan adanya suatu senyawa dari ujung koleoptil yang dapat berdifusi ke dalam blok agar jika ujung koleoptil yang telah dipotong diletakkan di atas blok agar sebentar. Kemudian blok agar dipotong menjadi potongan-potongan kubus kecil. Selanjutnya, potongan agar kecil diletakkan di atas koleoptil yang telah dipotong ujungnya. Ternyata koleoptil dapat tumbuh, jika potongan agar diletakkan asimetris diatas koleoptil maka koleoptil akan tumbuh membengkok. Berdasarkan percobaan tersebut, telah dibuktikan bahwa pada ujung koleoptil akan menghasilkan zat pemacu tumbuh yang mampu merangsang pertumbuhan koleoptil.

    Dalam aspek perkembangan dan pertumbuhan tanaman, auksin mempengaruhi berbagai proses fisiologis di dalam tumbuhan, yakni (1) perpanjangan sel, (2) tunas ketiak, (3) abisin daun, (4) aktivitas kambium, dan (5) tumbuh akar.


III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

1. Alat

a. Lempeng kaca
b. Kertas merang/koran
c. Karet gelang
d. Wadah
e. Pipet

2. Bahan

a. Kecambah jagung
b. Air

3. Cara kerja

a. Kecambah jagung yang masih segar sebanyak 6 buah disiapkan.
b. Lempeng kaca disiapkan dan dibalut dengan kertas merang/koran dengan posisi lempeng berada ditengah.
c. Kemudian karet gelang dipasangkan sejajar masing-masing 3 buah secara horizontal dan 2 buah lagi secara vertikal.
d. Masing-masing 3 buah kecambah jagung di letakkan secara mendatar pada karet gelang.
f. Lempeng kaca yang telah dibalut dimasukkan ke dalam wadah berisi air dan ketinggian air diperhatikan agar kecambah tidak terendam air.
g. Kecambah jagung dibasahi dengan air menggunakan pipet setiap harinya selama 3 hari.
h. Pertumbuhan dari calon batang dan akar kecambah jagung diamati dan dicatat.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil pengamatan

Tropisme PSYCHESOUPE

2. Pembahasan

    Praktikum tropisme bertujuan untuk mengetahui arah-arah tumbuh kembang calon akar maupun calon batang dari perkecambahan karena pengaruh cahaya dan gravitasi. Bahan yang digunakan adalah biji jagung (Zea mays).

    Praktikum tropisme dimulai dengan persiapan kecambah jagung yang masih segar dengan calon akar atau calon batang yang masih kecil. Kemudian lempengan kaca dibalut dengan kertas koran dan diikat dengan karet sebagai sarana penumbuhan kecambah jagung. Kertas koran akan menyerap air dan berfungsi untuk membasahi kecambah sedikit demi sedikit. Lalu, kecambah sebanyak 6 biji dipasangkan pada karet dengan posisi mendatar, sebagai posisi netral agar dapat diamati ke arah mana pertumbuhan akarnya. Setelah itu, lempengan kaca yang telah dibalut dan dipasangkan kecambah akan dimasukkan ke dalam wadah plastik, dan di isi air. Ketinggian air diperhatikan agar tidak merendam kecambah. Apabila diperlukan, pipet digunakan untuk memberi air pada kecambah jagung.

   Hasil akhir selama 4 hari pengamatan menunjukkan bahwa hampir semua calon batang kecambah jagung tumbuh menuju sumber cahaya dan calon akar kecambah jagung tumbuh ke arah pusat bumi, dimana air berada. Hal ini karena satu biji kecambah jagung yang terkecuali, mengalami calon batang yang patah saat hari pertama. Satu biji di kiri atas yang mati tersebut sempat menumbuhkan calon akarnya ke arah yang berlawanan dengan gravitasi bumi. Kecambah yang ditumbuhkan pada sisi bawah mengalami pertumbuhan akar yang pesat dibandingkan lainnya. Sementara, rata-rata kecambah yang ditumbuhkan di sisi kanan lebih cepat tumbuh, meskipun sumber cahaya paling besar ada di sebelah kiri (jendela). Perkecambahan calon batang tidak tumbuh tegak lurus dengan lempeng kaca, melainkan tumbuh ke arah sumber cahaya berasal.

   Arah calon batang perkecambahan menuju sumber cahaya (jendela) menunjukkan adanya peristiwa fototropisme. Fototropisme adalah gerak tropisme yang disebabkan oleh rangsangan berupa cahaya matahari. Fototropisme ini berkaitan dengan zat tumbuh tumbuhan yang disebut dengan auksin. Calon batang kecambah yang cenderung membelok kearah cahaya disebabkan oleh hormon auksin pada bagian tumbuhan yang terkena cahaya lebih sedikit, sedangkan auksin pada bagian yang tidak terkena cahaya bekerja dengan normal. Sedangkan arah akar perkecambahan yang menuju pusat bumi menunjukkan adanya peristiwa geotropisme. Geotropisme adalah gerak tropisme yang disebabkan oleh rangsangan berupa gravitasi bumi. Geotropisme yang ditandai dengan pertumbuhan menuju pusat bumi adalah gerak geotropisme positif. Oleh sebab air yang berada di bagian bawah penanaman kecambah, maka gerak hidrotropisme atau gerak yang ditandai dengan pertumbuhan kecambah menuju sumber air juga ditemui pada praktikum ini. Maka gerak pertumbuhan calon akar yang menuju ke arah bawah (tempat air berada dan arah gravitasi) bukan hanya gerak geotropisme positif namun juga hidrotropisme positif.


V. KESIMPULAN

    Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa gerak yang terjadi pada calon batang pada kecambah jagung adalah gerak fototropisme positif yang ditandai dengan pertumbuhan menuju ke arah sumber cahaya. Sedangkan gerak yang terjadi pada calon akar kecambah jagung adalah gerak geotropisme positif yang ditandai dengan pertumbuhan menuju gravitasi bumi. Selain itu terdapat gerak hidrotropisme positif yang ditandai dengan pertumbuhan akar menuju sumber air.


Daftar Pustaka

Anggorowati, Sulastri dan Triani Hardiyati. (2015). Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang: Universitas Terbuka.

Dwiati, Murni. (2010). Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Prawinata, W., S. Harran dan P. Tjondronegoro. (1981). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bogor: Departemen Botani. Fakultas Pertanian IPB.

Sasmitamihardja, D. dan A.H. Siregar. (1990). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Fakultas MIPA. ITB.

Sterling, T.M and D.M/ Namuth. (2004). Auxin and auxinic herbicide mechanism of action. Part 2. Advanced. J. Nat. Resource. Life Sciences. Educ. 33:1-10.

Wattimena, G.A. (1988). Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor: PAU Bioteknologi. IPB.

 

2022-02-21

TAKSONOMI VERTEBRATA - MAMALIA

 

📬🍒🍤 LAPORAN PRAKTIKUM :
MAMALIA


I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

    Mamalia merupakan kelompok hewan yang mempunyai glandula mammae. Betina pada semua spesies mamalia mengalami laktasi dan menyusui anaknya. Mamalia memiliki rambut yang menutupi tubuhnya dan terdapat variasi dalam sebaran di kulit, ukuran maupun kelebatannya. Suhu tubuh kelompok mamalia relatif stabil dan keadaan ini disebut dengan homoioterm. Di dalam kulit mamalia terdapat kelenjar air susu, kelenjar apokrin, kelenjar sebaceous, serta kelenjar ekrin. Mamalia mempunyai struktur tengkorak dan otot-ototnya juga berbeda dengan vertebrata yang lain. Berdasarkan sifatnya gigi-gigi pada mamalia dibedakan menjadi heterodont, thecodont, dan diphyodont. Mamalia dibagi ke dalam dua infrakelas yakni prototheria dan theria, yang kemudian dikelompokkan lagi ke sejumlah ordo.

    Ordo lagomorpha mencakup kelompok mamalia berukuran kecil sampai sedang. Pada lagomorpha bagian rahang atasnya terdapat 2 pasang gigi seri yang tersusun tumpang tindih, sert deretan gigi seri depan lebih besar dari pada deretan belakang. Ordo lagomorpha tidak mempunyai taring, sehingga ruangan itu disebut diastema. Organ testis terdapat dalam scrotum (buah zakar) yang terletak di luar abdomen. Mempunyai ekor pendek, telapak kaki yang berambut, serta jari-jari bercakar.

    Ordo rodentia pada umumnya beranggotakan mamalia kecil. Mempunyai tungkai depan dengan lima jari yang bercakar. Gigi seri satu pasang pada rahang atas, berbentuk seperti pahat, tidak memiliki akar gigi tetapi tumbuh terus, serta dilapisi email pada bagian anterior ujungnya. Kelompok hewan pada ordo rodentia tidak mempunyai taring. Testisnya abdominal dan tidak turun ke dalam scrotum.

2. Tujuan

a. Mengetahui penggolongan mamalia berdasarkan pengamatan terhadap struktur atau ciri morfologi pada mamalia sampel.
b. Mengidentifikasikan sampel kelinci dan mencit berdasarkan ciri-ciri pada kunci identifikasi dan menentukan nama jenis atau nama ilmiahnya dalam taksa tertentu.

II. TINJAUAN PUSTAKA

    Mamalia merupakan hewan vertebrata dengan karakteristik tubuh yang ditutupi oleh rambut serta memiliki kelenjar mamae. Mamalia juga memiliki karakteristik lain yakni mempunyai jantung beruang empat, sistem saraf yang kompleks, mempunyai paru-paru sebagai organ pernapasan, mempunyai sifat yang homoiterm (suhu tubuh tetap) dan endotherm, memiliki sistem rangka yang berfungsi dalam pergerakan, mempunyai organ indra yang berkembang serta memiliki banyak variasi sehingga tingkat keanekaragamannya tinggi (Payne, 2002).

    Mamalia mempunyai alat ekstremitas yang telah termodifikasi ke dalam berbagai bentuk aktivitas. Alat ekstremitas tersebut juga dilengkapi dengan kuku, cakat atau tracak yang terdapat pada jari-jarinya. Tidak hanya kelenjar mamae, mamalia juga memiliki kelenjar lain yakni kelenjar keringat yang mempunyai peranan pada metabolisme tubuh (Brotowidjoyo, 1989).

    Menurut Meijard et al. (2006), pengelompokan mamalia secara stratifikasi ekologi dapat dibagi dalam tiga kelompok, yakni terestrial, arboreal, dan akuatik. Pengelompokan mamalia juga kerap dilakukan dengan berdasarkan ukuran dan berat tubuh yaitu kelompok mamalia besar dan kelompok mamalia kecil.


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Alat

a. Baki putih/meja alas untuk bedah dan identifikasi.
b. Pinset.
c. Jarum-jarum pentul.
d. Penggaris.
e. Pensil 2B, penghapus.
f. Kertas gambar dengan pensil warna.
g. Loupe atau kaca pembesar.

2. Bahan

a. Seekor kelinci.
b. Seekor mencit.

3. Cara Kerja

a. Beberapa mamalia sampel dijajarkan di atas meja bedah atau baki putih.
b. Morfologi secara lengkap dari kelinci dan mencit sampel tersebut diamati dan digambarkan.
c. Selanjutnya, bagian dari kelinci dan mencit tersebut diberi keterangan, seperti: kepala, telinga, bagian dorsal, ventral, mata, mulut, gigi pengerat dan lain sebagainya.
d. Alat banti loupe digunakan untuk memperjelas pengamatan.
e. Alat bantu seperti pinset dan jarum pentul digunakan untuk memegang dan membuka bagian-bagian tertentu seperti celah mulut dan lain sebagainya.
f. Selanjutnya adalah melakukan identifikasi, dengan menggunakan kunci identifikasi famili atau ordo yang telah disediakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

Mamalia PSYCHESOUPE

2. Pembahasan

   Praktikum mamalia bertujuan untuk mempelajari penggolongan mamalia berdasarkan pengamatan terhadap struktur atau ciri morfologi pada mamalia sampel serta mengidentifikasikan mamalia sampel tersebut berdasarkan ciri-ciri pada kunci identifikasi dan menentukan nama jenis atau nama ilmiahnya dalam taksa tertentu. Bahan yang digunakan adalah kelinci dan mencit yang termasuk ke dalam golongan hewan pengerat.

   Pertama-tama sampel kelinci dan mencit ditimbang bobotnya dan diukur terlebih dahulu panjang dari masing-masing bagian tubuh tertentu. Pengukuran tersebut berguna untuk membantu menentukan nama sampel dengan kunci identifikasi. Setelah pengukuran, pengamatan dapat dilakukan secara langsung.

   Pada mamalia tubuhnya tertutupi oleh rambut. Khususnya untuk hewan pengerat pada mamalia memiliiki gigi seri yang berkembang. Sementara, pada harimau atau hewan dari ordo Carnivora, gigi taringnya lebih berkembang. Sedangkan, pada manusia gigi gerahamnya yang lebih berkembang. Mamalia memiliki ciri khusus berupa terdapatnya glandula mammae pada betina. Selain itu, bobot mamalia satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Pada mamalia dengan ordo yang lebih tinggi, tungkai depan dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari dan disebut dengan tangan, sementara tungkai belakang digunakan untuk berjalan dan disebut dengan kaki. Mamalia yang berjalan dengan dua kaki disebut dengan dipoda dan merupakan evolusi dari mamalia yang berjalan dengan empat kaki atau tetrapoda.

    Mencit sampel memiliki gigi seri yang maju ke depan. Mencit memiliki daun telinga. Apabila dibandingkan dengan tikus, mencit memiliki ukuran badan yang lebih kecil serta panjang tubuh yang lebih pendek daripada tikus. Ukuran gigi pengerat depan (gigi seri) pada mencit lebih kecil apabila dibandingkan dengan tikus. Pada mencit sampel tidak terdapat glandula mammae, namun terdapat tonjolan dekat lubang pengeluaran yang mengindikasikan bahwa kelaminnya adalah jantan. Mencit sampel memiliki rambut berwarna putih. Sementara pada bagian hidung, bagian dalam daun telinga, sebagian tungkai depan dan tungkai belakang, serta ekornya memiliki kulit berwarna merah muda.

   Kelinci sampel memiliki gigi seri yang berkembang yaitu panjang ke bawah. Kelinci sampel memiliki mata yang besar dan terdapat kumis pada bagian hidungnya. Terdapat daun telinga yang panjang pada organ pendengaran. Glandula mammae ditemukan pada kelamin betina. Kelinci sampel memiliki rambut berwarna putih. Sementara, bagian dalam daun telinga berkulit merah muda dan bagian luarnya berambut hitam.


V. KESIMPULAN

   Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan mengamati struktur atau ciri morfologi sampel mamalia, telah diketahui nama ilmiah mereka dalam taksa tertentu yang teridentifikasi. Sampel mencit telah diketahui merupakan spesies Mus musculus. Sedangkan, sampel kelinci telah diketahui termasuk ke dalam ordo Lagomorpha.

   Pada mencit dan kelinci sampel dapat dibedakan bagian kepala, badan dan ekor. Pada kepala terdapat mata, mulut, telinga, kumis dan hidung. Pada badan dua pasang tungkai, perut, dada, glandula mammae, dan lubang pengeluaran. Pada bagian ekor, terdapat ekor dengan karakteristik yang berbeda-beda.


Daftar Pustaka

Corbet, G.B. and J.E. Hill. (1992). The Mammals of the Indomalayan Regions: A Systematic Review. London: Natural History Museum Publication.

Harrison, J. (1996). An Introduction to Mammals of Singapore and Malaya. Singapore: Malayan Nature Society.

Hickman, C.P. L.S. Roberts and Allan Larson. (1998). Zoology, 10Th Edition. San Francisco, California: W.C. Brown McGraw Hill Publishers.

Hickman, C.P. and L.S. Roberts. (2000). Biology of Animals, 8th Edition Dubuque, Iowa: W.C. Brown Publishers.

Meijaard, E., D. Sheil, R. Nasi, D. Augeri, B. Rosenbaum, D. T. Iskandar, T. Setyawati, M. Lammertink, I. Rachmatika, A. Wong, T. Soehartono, S. Stanley and T. O’Brien. (2005). Life after logging. Reconciling wildlife conservation and production forestry in Indonesian Borneo. Center for International Forestry Research. Jakarta.

Payne J, CM Francis, K Phillips dan SN Kartikasari. (2000). Panduan Lapangan: Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak dan Brunei Darussalam. Prima Centra Indonesia. Jakarta.

Pough, F.H., Christine M.J. and John, B.H. (2002). Vertebrate Life, 6th Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Rosadi, Bayu dan Hurip Pratomo. (2010). Praktikum Taksonomi Vertebrata. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Rosadi, Bayu dan Hurip Pratomo. (2019). Taksonomi Vertebrata. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

 

2022-02-20

TAKSONOMI VERTEBRATA - AVES

 

📬🍒🍤 LAPORAN PRAKTIKUM :
AVES

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

    Burung mempunyai perbedaan pada bagian paruh dan kaki sesuai jenis makanan dan cara bergerak. Bentuk morfologi dari saluran pencernaan terkait dengan kebiasaan makan. Sementara, bentuk sayapnya merefleksikan karakteristik terbangnya. Ciri-ciri morfologi lainnya relatif seragam dan disesuaikan dengan kemampuan terbang burung. Beberapa aspek morfologi yang mendukung kemampuan burung adalah bentuk anatomis bulu yang merupakan ciri utama dari burung, terdapatnya sayap dengan otot-otot penggeraknya yang merupakan modifikasi kaki depan, terdapatnya pneumatisasi pada tulang, konsentrasi bobot burung yang cenderung tertuju pada bagian kaki belakangnya, sistem pernafasan yang khas serta ukuran jantung yang besar.

    Berdasarkan kemampuan terbangnya, burung digolongkan menjadi 2 kelompok besar, yakni ratitae yang anggota-anggotanya tidak dapat terbang oleh sebab alat-alat terbangnya tidak memadai. Kelompok kedua adalah carinatae yang mencakup burung-burung dengan kemampuan terbang. Masing-masing kelompok tersebut dibagi lagi ke dalam beberapa ordo dengan perbedaan antar ordo yang relatif kecil dibandingkan vertebrata lain.

2. Tujuan

a. Mengetahui penggolongan aves berdasarkan pengamatan terhadap struktur atau ciri morfologi pada aves sampel.
b. Mengidentifikasikan sampel burung dan ayam berdasarkan ciri-ciri pada kunci identifikasi dan menentukan nama jenis atau nama ilmiahnya dalam taksa tertentu.

II. TINJAUAN PUSTAKA

    Kata Aves berasal dari kata Latin yang dipakai sebagai nama kelas, sedang Ornis dari bahasa Yunani, dipakai dalam “Ornithology” berarti ilmu yang mempelajari burung-burung. Aves merupakan satu-satunya kelas dalam kelompok chordata yang cukup unik dengan memiliki bulu dan berbagai macam tipe kaki. Bulu adalah modifikasi dari sisik yang berkembang secara evolusioner dari reptilia. Jantung burung terdiri dari empat ruang dan tergolong hewan berdarah panas. Semua burung menggunakan paruh dan tidak memiliki gigi. Struktur modifikasi untuk terbang meliputi tulang lengkung, rangka apendikular depan berubah menjadi sayap, kantung udara, mata yang lebar, dan cerebellum yang berkembang dengan sangat baik (Iskandar, 1989).

    Kelas Aves adalah kelas hewan vertebrata yang berdarah panas dengan memiliki bulu dan sayap. Tulang dada tumbuh membesar dan memipih, anggota gerak belakang beradaptasi untuk berjalan, berenang dan bertengger. Mulut sudah termodifikasi menjadi paruh, punya kantong hawa, jantung terdiri dari empat ruang, rahang bawah tidak mempunyai gigi karena gigi-giginya telah menghilang yang digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk dan berkembang biak dengan bertelur. Kelas ini dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber makanan, hewan ternak, hobi dalam peliharaan. Dalam bidang industri bulunya dapat dimanfaatkan contohnya baju, hiasan dinding, dan lainnya. (Mukayat, 1990).


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Alat

a. Baki putih/meja alas untuk bedah dan identifikasi.
b. Pinset.
c. Jarum-jarum pentul.
d. Penggaris.
e. Pensil 2B, penghapus.
f. Kertas gambar dengan pensil warna.
g. Loupe atau kaca pembesar.

2. Bahan

a. Burung lovebird.
b. Ayam.
c. Burung dara atau merpati.

3. Cara Kerja

a. Beberapa aves sampel dijajarkan di atas meja bedah atau baki putih.
b. Morfologi secara lengkap dari aves sampel tersebut diamati dan digambarkan.
c. Selanjutnya, bagian dari burung dan ayam tersebut diberi keterangan, seperti: atap kepala, cincin mata, paruh, punggung, dada, perut dan lain sebagainya.
d. Alat banti loupe digunakan untuk memperjelas pengamatan.
e. Alat bantu seperti pinset dan jarum pentul digunakan untuk memegang dan membuka bagian-bagian tertentu seperti mulut, lipatan sayap, bulu-bulu dan lain sebagainya.
f. Selanjutnya adalah melakukan identifikasi, dengan menggunakan kunci identifikasi jenis atau spesies yang telah disediakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

Aves PSYCHESOUPE

Aves II PSYCHESOUPE

2. Pembahasan

    Praktikum aven bertujuan untuk mempelajari penggolongan aves berdasarkan pengamatan terhadap struktur atau ciri morfologi pada sampel serta mengidentifikasikan sampel tersebut berdasarkan ciri-ciri pada kunci identifikasi dan menentukan nama jenis atau nama ilmiahnya dalam taksa tertentu. Bahan yang digunakan adalah burung lovebird, ayam dan burung merpati atau dara.

    Pertama-tama sampel burung dan ayam diukur terlebih dahulu panjang dari masing-masing bagian tubuh tertentu. Pengukuran tersebut berguna untuk membantu menentukan nama ikan dengan kunci identifikasi. Setelah pengukuran, pengamatan dapat dilakukan secara langsung.

    Pada aves, tungkai depan bermodifikasi menjadi sayap dengan fungsi untuk terbang. Struktur sirip, sayap dan tungkai itu sama, terdapat humerus, ulna, jari-jari dkk. Pada materi evolusi dikenal dengan istilah homologi, yaitu mempunyai struktur yang sama namun berbeda fungsinya. Selain itu, panjang tungkai belakang atau kaki pada aves yang dapat terbang dengan yang tidak bisa terbang berbeda-beda.

    Burung lovebird sampel memiliki pola warna yang cantik, yaitu hijau di bagian sayap, tubuh dan kepala; kuning disekitar lehernya; dan kemerahan di bagian paruh dan sekitarnya. Paruhnya kecil dan bentuknya agak membengkok, mencirikan burung pemakan biji-bijian dan juga buah. Ukuran tubuh pada burung betina umumnya lebih besar. Paruh dan mata pada betina agak keras. Bulu sayap pada burung lovebird sampel dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sayap primer yang terletak dekat humerus, sayap sekunder dibagian tengah dan sayap tersier dibagian ujung.

    Ayam memiliki bentuk paruh yang khas. Pada sampel bentuknya bengkok dengan ujung yang berwarna hitam. Apabila panjang, makanannya adalah serangga. Apabila bengkok, makanannya adalah daging atau buah-buahan. Selain itu terdapat juga mata dan hidung terletak diatas paruh serta terdapat lubang telinga di masing-masing sisi kepala. Pola warna kepala ayam berbeda-beda, ada yang memiliki jengger. Ayam sampel tidak mempunyai jengger dan bulu kepalanya berwarna hitam. Pada bagian lehernya terdapat tembolok yang merupakan saluran pencernaan yang fungsinya membantu pelumatan makanan. Struktur bulu ekor/kauda berbeda dengan bulu yang menutupi bagian tubuh. Bulu sayap pada ayam sampel dibagi menjadi dua bagian, yaitu sayap primer yang terletak dekat ketiak dan sayap sekunder dibagian ujung.

    Burung dara atau burung merpati sampel memiliki warna bulu coklat dengan beberapa bulu putih pada beberapa bagian. Bulu sayap pada burung merpati sampel dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sayap primer yang terletak dekat humerus, sayap sekunder dibagian tengah dan sayap tersier dibagian ujung.


V. KESIMPULAN

    Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan mengamati struktur atau ciri morfologi sampel aves, telah diketahui nama ilmiah mereka dalam taksa tertentu yang teridentifikasi. Sampel burung lovebird telah diketahui termasuk ke dalam genus Agapornis. Sampel ayam telah diketahui merupakan spesies Gallus domesticus. Sedangkan, sampel burung merpati atau dara telah diketahui termasuk ke dalam spesies Columba livia.

    Pada burung dan ayam sampel dapat dibedakan bagian kepala, badan dan ekor. Pada kepala terdapat mata, paruh, lubang telinga dan lubang hidung. Pada badan sepasang sayap, perut, dada, punggung dengan bulu yang khas pada masing-masing bagian. Pada bagian ekor terdapat bulu ekor dengan struktur yang berbeda dengan bulu pada badan.


Daftar Pustaka

Delacour, J. (1947). Birds of Malaysia. New York: The Macmillan Company.

Hickman, C.P. L.S. Roberts and Allan Larson. (1998). Zoology, 10Th Edition. San Francisco, California: W.C. Brown McGraw Hill Publishers.

Hickman, C.P. and L.S. Roberts. (2000). Biology of Animals, 8th Edition Dubuque, Iowa: W.C. Brown Publishers.

Holmes, D. and Stephen Nash. (2000). Seri Panduan Lapangan Burung-burung di Jawa dan Bali. Jakarta: Puslitbang Biologi-LIPI dan Birdlife Indonesia

Iskandar, J. (1989). Jenis Burung yang Umum di Indonesia. Buku. Djambatan. Jakarta.

King, B. F. and E. C. Dickinson. (1996). A Field Guide to The Birds of South - East Asia. London: Collins.

Mukayat, D. (1990). Zoologi Vertebrata. Jakarta: Erlangga.

Pough, F.H., Christine M.J. and John, B.H. (2002). Vertebrate Life, 6th Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Rosadi, Bayu dan Hurip Pratomo. (2010). Praktikum Taksonomi Vertebrata. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Rosadi, Bayu dan Hurip Pratomo. (2019). Taksonomi Vertebrata. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

 

2022-02-19

TAKSONOMI VERTEBRATA - REPTIL

 

📬🍒🍤 LAPORAN PRAKTIKUM :
REPTIL


I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

    Reptil memiliki makna umum yaitu melata atau merayap, hal ini oleh sebab bagian ventral atau permukaan bawah tubuhnya menempel atau bersentuhan dengan tanah atau tempat hidupnya ketika berjalan. Semua reptil mempunyai organ lidah, pada buaya dan kura-kura lidahnya tebal dan pendek, melekat pada dasar mulut, namun tidak dapat dijulurkan, hanya dapat diangkat sedikit. Sedangkan pada ular, lidah mempunyai bentuk langsing dan ujungnya ada yang terbelah (bifida) atau tidak, serta dapat dijulur-julurkan. Reptil termasuk ke dalam kelompok hewan tetrapoda, karena memiliki dua pasang tungkai yang bertipe pentadactylus (berjari lima) dan pada setiap jari berakhir dengan cakar. Pada beberapa kelompok ada yang tidak bertungkai sama sekali, seperti beberapa famili dalam subordo lacertilia dan subordo ophidia.

2. Tujuan

a. Mengetahui penggolongan reptil berdasarkan pengamatan terhadap struktur atau ciri morfologi pada ular sampel.

b. Mengidentifikasikan sampel ular berdasarkan ciri-ciri pada kunci identifikasi dan menentukan nama jenis atau nama ilmiahnya dalam taksa tertentu.


II. TINJAUAN PUSTAKA

    Menurut Gain 1962, kelas reptil mencakup empat ordo yang anggota-anggotanya masih hidup sampai sekarang, yakni testudinata, rhynchocephalia, squamata, dan crocodilia. Namun menurut Hildebrand (2001) dan Manthey (1997), hanya ada tiga ordo hewan reptil yang masih hidup sampai sekarang yaitu ordo squamata, crocodilia, dan chelonia (testudinata); sementara ordo rhynchocephalia (misal: hewan tuatara) dimasukkan ke dalam ordo squamata.

    Reptil memiliki makna melata, yakni permukaan tubuh sangat dekat dengan tanah atau lebih tepatnya merayap. Tubuh reptil ditutupi kulit bersisik yang relatif kering dan keras. Umumnya tubuh reptil terbagi menjadi empat bagian utama, yakni kepala, leher, badan, dan ekor. Bentuk tubuh reptil sangat beragam dan berbeda, serta sangat ekstrem antara satu bentuk dan bentuk lainnya. Reptilia dibagi menjadi empat kelompok yaitu Kura-kura (Chelonia), Buaya (Crocodila), Kadal (Lacertilia), dan Ular (Ophidia) (Zuniza, 2004).

    Subordo serpentes telah dikenal dengan keunikannya yang merupakan reptilia tidak berkaki (kaki mereduksi) dari karakteristik ini dapat diketahui bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Selain itu, subordo serpentes memiliki ciri berupa tidak terdapatnya kelopak mata pada seluruh anggotanya. Sementara itu, fungsi dari pelindung mata digantikan oleh sisik transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang lain, pertemuan pada tulang rahang bawahnya dihubungkan oleh ligament elastic (Brotowidjoyo, 1989).


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Alat

a. Baki putih/meja alas untuk bedah dan identifikasi.
b. Pinset.
c. Jarum-jarum pentul.
d. Penggaris.
e. Pensil 2B, penghapus.
f. Kertas gambar dengan pensil warna.
g. Loupe atau kaca pembesar.

2. Bahan

a. Beberapa ular dengan berbagai morfologi.

3. Cara Kerja

a. Beberapa ular sampel dijajarkan di atas meja bedah atau baki putih.
b. Morfologi secara lengkap dari ular-ular sampel tersebut diamati dan digambarkan.
c. Selanjutnya, bagian ular dari tersebut diberi keterangan.
d. Alat bantu loupe digunakan untuk memperjelas pengamatan.
e. Selanjutnya adalah melakukan identifikasi, dengan menggunakan kunci identifikasi famili atau ordo yang telah disediakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

Reptil PSYCHESOUPE


2. Pembahasan

    Praktikum reptil bertujuan untuk mempelajari penggolongan amfibi berdasarkan pengamatan terhadap struktur atau ciri morfologi pada sampel ular serta mengidentifikasikan sampel tersebut berdasarkan ciri-ciri pada kunci identifikasi dan menentukan nama jenis atau nama ilmiahnya dalam taksa tertentu. Bahan yang digunakan adalah ular Liopeltis dan termasuk kedalam ordo Squamata.

    Pertama-tama ular sampel sampel diukur terlebih dahulu panjang dari masing-masing bagian tubuh tertentu. Pengukuran tersebut berguna untuk membantu menentukan nama amfibi dengan kunci identifikasi. Setelah pengukuran, pengamatan dapat dilakukan secara langsung.

    Tubuh ular ditutupi oleh sisik yang berbeda pada sisik ikan yang sifatnya licin. Sisik ular mengandung zat lignin yaitu zat tanduk sehingga teksturnya lebih keras. Ular umumnya terlihat seperti tidak memiliki kaki, namun sebenarnya punya. Kakinya sangat kecil (tereduksi), dan oleh karena keberadaan kaki tersebut, ular bergerak melata dengan membentuk pola zig-zag.

    Ular sampel pertama memiliki warna kecoklatan. Ular sampel memiliki bentuk kepala yang gepeng dan lidah yang bercabang. Ular memiliki punggung atas yang disebut dengan bagian dorsal dan ditutupi oleh sisik. Sisik bagian dorsal dapat dihitung secara susunan sisik diagonal saja, pada ular sampel sisik diagonal bagian dorsal berjumlah 13. Pada bagian kepala ular juga terdapat susunan sisik yang khas dan disebut dengan istilah perisai. Selain itu, di bagian atas kepala terdapat mata dan lubang hidung. Sisik bagian ventral adalah sisik yang tampak dari samping. Sementara, sisik bagian ventral adalah sisik bagian perut yang tertutupi. Bagian anal atau lubang pengeluaran juga ditutupi oleh sisik. Pada bagian kauda atau ekor ular sampel, sisiknya berpasangan. Pada ular lain juga dapat ditemukan tidak berpasangan atau campuran. Pola sisik di sekujur tubuh ular dapat menjadi penciri jenis ular. Karena tidak semua ular memiliki pola sisik yang sama.

    Ular sampel lainnya ada yang berwarna kemerahan dan ada yang berwarna putih dengan garis hitam yang memanjang disepanjang tubuhnya. Mereka sama-sama memiliki sisik ekor dengan pola yang berpasangan.


V. KESIMPULAN

    Berdasarkan praktikum yang dilakukan dengan mengamati struktur atau ciri morfologi sampel reptil, telah diketahui nama ilmiah mereka dalam taksa tertentu yang teridentifikasi. Sampel ular pertama telah diketahui dikelompokkan ke dalam genus Liopeltis.

    Pada ular sampel dapat dibedakan bagian caput, abdomen dan kauda. Pada caput atau kepala terdapat mata, mulut, dan lubang hidung, serta pola sisik perisai. Pada abdomen atau badan terdapat sisik yang berpola. Pada bagian kauda atau ekor terdapat lubang pengeluaran dan pola sisik ekor yang khas.


Daftar Pustaka

Abramorf, P. (1977). Laboratory outlines in Zoology. Minnesota: Burgers Publ.

Brotowidjoyo, Mukayat Djarubito. (1989). Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

De Rooij, N. (1917). The Reptiles of the Indo-Australian Archipelago II: Ophidia. Leiden: E.J. Brill Ltd.

Goin, C., and O.B. Goin. (1962). Introduction to Herpetology. San Francisco: W.H. Freeman and Company.

Hickman, C.P. and L.S. Roberts. (2000). Biology of Animals, goh edition. Dobuque, Iowa: W.C. Brown Publishers.

Hildebrand M, Goslow G. (2001). Analysis of Vertebrae Structure. Fifth edition. New York: John Wiley & Sons. Kurniati, H. (2003). Amphibians and reptiles of Gunung Halimun National Park West Java, Indonesia. LIPI. Cibinong.

Leutscher, A. (1960). The Young Specialist Looks At Reptiles and Amphibians. San Francisco and London: Burhe.

Manthey, U., Wolfgang Grossmann. (1997). Amphibien & Reptilien Sudostasien. Berlin. Satz: tritec-Grafikwerkstart. Druck: Druckhaus cramer, Greven. Natur und Tier-Verlag.

Pough, F.H., Christine, M.J. and John, B.H. (2002). Vertebrate life on edition. New Jersey: Prentice Hall.

Rosadi, Bayu dan Hurip Pratomo. (2010). Praktikum Taksonomi Vertebrata. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Rosadi, Bayu dan Hurip Pratomo. (2019). Taksonomi Vertebrata. Edisi kedua. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Soesilo. (1995). Kunci Determinasi Ular, Seksi Sistematik Hewan. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM. (dikutip dan diterjemahkan dari The Snakes of Malaya, Treedie).

Verma, P.S. (1979). A Manual of Practical Zoology, Chordates. New Delhi: S. Chand & Company Ltd.


STRUKTUR BIJI KACANG HIJAU

  🐰🍒🥦 STUDI : BIJI KACANG HIJAU (EMBRIOLOGI TUMBUHAN)     Pembelajaran ini bertujuan untuk: (1) mengamati dan mengetahui struktur dari b...